SPKM4307 - Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Kimia
Modul 1 - Analisis Kurikulum dan Literatur Pembelajaran Kimia Kegiatan Praktikum
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari analisis wacana pada Kegiatan 1.1. Mahasiswa diarahkan untuk tidak hanya memahami isi dan gagasan utama wacana, tetapi juga menafsirkan maknanya dengan mengaitkan isu-isu yang dibahas pada realitas pembelajaran kimia di sekolah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu melihat keterhubungan antara perubahan pedagogik global dan praktik pembelajaran kimia yang berlangsung di konteks pendidikan nyata.
Mahasiswa diminta melakukan interpretasi lanjutan terhadap wacana yang telah dianalisis pada Kegiatan 1.1 dengan fokus pada bagaimana gagasan-gagasan utama dalam wacana tersebut dapat dipahami dan dimaknai dalam konteks pembelajaran kimia di sekolah masing-masing. Interpretasi diarahkan untuk menelaah sejauh mana nilai-nilai seperti berpikir kritis, adaptabilitas, pembelajaran sepanjang hayat, fleksibilitas pedagogik, keterbukaan, serta pengakuan terhadap pengalaman belajar peserta didik telah hadir, terbatas, atau justru terhambat dalam praktik pembelajaran kimia di sekolah. Mahasiswa diharapkan mampu membaca wacana ini sebagai lensa reflektif untuk menilai praktik pembelajaran yang mereka kenal, dengan mempertimbangkan kurikulum yang berlaku, strategi pembelajaran yang digunakan guru, pendekatan asesmen, serta pengalaman belajar siswa di kelas. Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran pedagogik kontekstual sebagai landasan awal bagi mahasiswa untuk memahami kemungkinan penerapan pendekatan pembelajaran yang lebih reflektif, adaptif, dan berorientasi nilai di sekolah.
Pendidikan pada era kontemporer dituntut untuk melampaui batas-batas persekolahan tradisional dalam menyiapkan individu menghadapi kompleksitas kehidupan modern dan dunia kerja yang terus berubah, sehingga memerlukan pendekatan pedagogik yang menekankan kemampuan berpikir kritis, adaptabilitas, dan pembelajaran sepanjang hayat. Dalam konteks era post-truth, pendidikan perlu memperkuat literasi media dan kemampuan berpikir interpretatif agar peserta didik mampu memilah informasi, mengambil keputusan, dan bertindak secara reflektif di tengah banjir informasi dan misinformasi (Bruni, 2020). Pergeseran ini juga tercermin dalam berkembangnya pendekatan post-method pedagogy, yang menolak ketergantungan pada satu metode baku dan mendorong fleksibilitas strategi pembelajaran sesuai konteks dan kebutuhan peserta didik, sebagaimana ditunjukkan dalam praktik pengajaran bahasa yang mengombinasikan berbagai metode secara adaptif (Suprijadi, 2016). Pada level pendidikan tinggi, universitas mulai bergerak menuju model post-pedagogical university yang tidak hanya berorientasi pada transmisi pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan warga negara terdidik melalui keterlibatan bermakna, aktivitas berpikir kritis, dan peran pendidik sebagai spesialis pembelajaran (Parsell & Chinchen, 2019). Sejalan dengan itu, pedagogi pascasarjana juga mengalami pergeseran menuju praktik yang lebih terbuka dan inklusif, meninggalkan model elitis dan tertutup demi memperluas akses, fleksibilitas, serta penjaminan mutu dan etika pendidikan (McWilliam & Palmer, 1995). Pendekatan pedagogik yang lebih radikal bahkan menempatkan pengakuan terhadap pengalaman dan kompetensi belajar sebelumnya sebagai bagian penting dari proses pendidikan, seperti ditunjukkan dalam model Recognition of Prior Learning yang mengangkat martabat dan afirmasi diri peserta didik dari kelompok marjinal (Bofelo et al., 2014). Meskipun demikian, upaya merespons tantangan pendidikan kontemporer melalui pendekatan-pendekatan tersebut juga memunculkan ketegangan antara standar akademik tradisional dan praktik inovatif, yang menegaskan perlunya dialog berkelanjutan dan adaptasi strategi pedagogik agar tetap relevan dan efektif dalam berbagai konteks pendidikan.
- Pilih dua gagasan kunci dari wacana yang menurut Anda paling relevan dengan pembelajaran kimia di sekolah.
- Jelaskan bagaimana gagasan tersebut tercermin (atau belum tercermin) dalam praktik pembelajaran kimia di sekolah yang Anda kenal.
- Identifikasi tantangan yang dihadapi guru dan siswa dalam merespons gagasan tersebut.
Berikut ini adalah langkah kerja untuk dilakukan Mahasiswa:
- Mahasiswa melaksanakan kegiatan ini dengan melakukan interpretasi lanjutan terhadap wacana yang telah dianalisis pada Kegiatan 1.1.1. Fokus kegiatan diarahkan pada upaya memahami dan memaknai gagasan-gagasan utama dalam wacana tersebut dengan mengaitkannya secara langsung pada konteks pembelajaran kimia di sekolah yang dikenal mahasiswa.
- Proses kerja diawali dengan memilih dua gagasan kunci dari wacana yang dianggap paling relevan dengan realitas pembelajaran kimia di sekolah. Mahasiswa kemudian menafsirkan makna dari masing-masing gagasan tersebut dengan menjelaskan bagaimana gagasan tersebut tercermin, sebagian tercermin, atau belum tercermin dalam praktik pembelajaran kimia di sekolah.
- Selanjutnya, mahasiswa mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi guru dan siswa dalam merespons atau mewujudkan gagasan-gagasan tersebut dalam pembelajaran kimia, dengan mempertimbangkan faktor kurikulum, karakteristik peserta didik, kondisi sekolah, serta dinamika perubahan sosial dan digital.
- Seluruh kegiatan dilakukan secara reflektif dan analitis, tanpa merancang solusi, model pembelajaran, atau strategi implementasi. Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran pedagogik kontekstual mahasiswa serta kemampuan menghubungkan wacana pedagogik dengan praktik pembelajaran nyata di sekolah.
Setelah Anda, para Mahasiswa, mempelajari semua petunjuk termasuk materi dpraktikum dan materi pengayaan praktikum, maka selanjutnya silahkan mengerjakan Post Test terlebih dahulu untuk dapat merefleksikan diri tentang kesiapan anda sendiri dalam melaksakan praktikum.
.
Mahasiswa menyusun tulisan interpretatif berdasarkan wacana yang disediakan dengan ketentuan sebagai berikut:
- Tulisan mengkaji dua gagasan kunci dalam wacana yang dianggap paling relevan dengan pembelajaran kimia di sekolah.
- Setiap gagasan diinterpretasikan dengan menjelaskan bagaimana gagasan tersebut dimaknai dan dikaitkan dengan konteks pembelajaran kimia di sekolah yang dikenal mahasiswa.
- Tulisan menguraikan kondisi nyata praktik pembelajaran kimia, dengan menunjukkan apakah dan sejauh mana gagasan tersebut telah atau belum tercermin dalam praktik.
- Mahasiswa mengidentifikasi tantangan yang dihadapi guru dan siswa dalam merespons gagasan-gagasan tersebut dalam pembelajaran kimia.
- Tulisan disusun secara individual, bersifat deskriptif-analitis dan reflektif, serta menunjukkan pemahaman terhadap hubungan antara wacana pedagogik dan konteks pendidikan nyata.
- Panjang tulisan 500–700 kata.
- Tulisan tidak memuat rancangan solusi, model pembelajaran, maupun analisis proyektif implementasi, dan tidak diarahkan pada usulan perbaikan pembelajaran.
Modul 2 - Analisis Proyektif Implementasi Post-School Pedagogy (PSP) dalam Pembelajaran Kimia Kegiatan Praktikum
Kegiatan ini dirancang untuk membawa mahasiswa melangkah dari tahap interpretasi menuju analisis proyektif, dengan menelaah sejauh mana konteks sekolah memungkinkan penerapan pendekatan Post-School Pedagogy (PSP) dalam pembelajaran kimia. Pada tahap ini mahasiswa tidak diminta merancang pembelajaran, melainkan menerawang secara reflektif dan argumentatif kesiapan lingkungan pendidikan tempat pembelajaran berlangsung, sebagai dasar pemahaman sebelum memasuki tahap eksplorasi skenario implementasi.
Pada kegiatan ini, mahasiswa diarahkan untuk melakukan analisis proyektif terhadap kesiapan pembelajaran kimia di konteks sekolah yang mereka kenal, dengan menggunakan nilai dan prinsip dasar Post-School Pedagogy (PSP) sebagai lensa konseptual. Analisis proyektif dimaknai sebagai upaya menerawang secara reflektif dan argumentatif kemungkinan kondisi pembelajaran apabila pendekatan pedagogik berbasis nilai, relasional, dan kontekstual mulai diperkenalkan, tanpa masuk pada perancangan teknis pembelajaran.
Mahasiswa diminta menelaah secara mendalam berbagai aspek konteks pembelajaran kimia, meliputi kurikulum yang berlaku, budaya dan iklim sekolah, pola relasi guru–siswa, bentuk interaksi pembelajaran, serta karakter ekosistem belajar yang ada di dalam dan di luar sekolah. Fokus analisis diarahkan pada sejauh mana konteks tersebut mendukung, membatasi, atau berpotensi menegangkan upaya pembelajaran kimia yang lebih reflektif, adaptif, dan berorientasi nilai sebagaimana ditekankan dalam kerangka Post-School Pedagogy.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk membaca konteks sekolah bukan sebagai latar yang netral, melainkan sebagai ruang pedagogik yang sarat nilai, kebiasaan, dan asumsi tentang belajar, mengajar, dan peran pendidikan. Analisis diharapkan mampu mengungkap potensi-potensi yang selama ini mungkin tersembunyi, sekaligus keterbatasan struktural, kultural, maupun pedagogik yang dapat memengaruhi kesiapan penerapan pendekatan pembelajaran berbasis PSP dalam pembelajaran kimia.
Kegiatan ini menempatkan mahasiswa pada posisi pengamat kritis dan reflektif, bukan perancang solusi. Oleh karena itu, mahasiswa tidak diminta menyusun RPP, model pembelajaran, atau langkah operasional, melainkan membangun pemahaman konseptual yang kokoh mengenai kondisi awal pembelajaran kimia di sekolah sebagai dasar pemikiran sebelum memasuki tahap eksplorasi dan penyusunan skenario implementasi pada kegiatan selanjutnya.
Kegiatan ini tidak memerlukan alat laboratorium fisik. Mahasiswa menggunakan:
- Dokumen wacana dan materi pendukung yang disediakan pada modul sebelumnya
- Dokumen kurikulum atau perangkat pembelajaran kimia yang relevan (jika tersedia)
- Catatan reflektif pribadi berdasarkan pengalaman atau pengamatan terhadap praktik pembelajaran kimia di sekolah
- Pelajari kembali wacana dan hasil interpretasi pada Kegiatan 1.1 dan 1.2.
- Tentukan satu konteks sekolah (sekolah tempat mengajar, PPL, observasi, atau pengalaman belajar sebelumnya) sebagai objek analisis.
- Identifikasi aspek-aspek konteks yang relevan dengan kesiapan penerapan PSP, seperti kurikulum, budaya sekolah, peran guru–siswa, dan ekosistem belajar.
- Lakukan analisis proyektif terhadap peluang dan keterbatasan pada masing-masing aspek tersebut secara argumentatif.
- Susun hasil analisis dalam bentuk tulisan reflektif-analitis sesuai ketentuan penugasan.
Susunlah tulisan analisis proyektif dengan ketentuan berikut:
- Panjang tulisan: 600–800 kata
- Ditulis secara individual
- Berfokus pada kesiapan konteks pembelajaran kimia untuk penerapan Post-School Pedagogy
- Bersifat analitis, reflektif, dan argumentatif
- Tidak memuat rancangan RPP, model pembelajaran, atau langkah teknis implementasi
Kegiatan ini merupakan kelanjutan langsung dari analisis proyektif kesiapan konteks pembelajaran kimia pada Kegiatan 2.1. Pada tahap ini, mahasiswa diarahkan untuk menyusun skenario konseptual implementasi Post-School Pedagogy (PSP) dalam pembelajaran kimia berdasarkan kondisi nyata sekolah yang mereka kenal. Kegiatan ini menempatkan mahasiswa pada posisi reflektif-kritis untuk membayangkan kemungkinan penerapan PSP secara argumentatif, tanpa masuk ke perancangan teknis pembelajaran atau model operasional.
Pada kegiatan ini, mahasiswa diarahkan untuk menyusun skenario implementasi Post-School Pedagogy (PSP) dalam pembelajaran kimia secara konseptual dan argumentatif, sebagai kelanjutan dari analisis proyektif kesiapan konteks pembelajaran pada kegiatan sebelumnya. Penyusunan skenario dimaknai bukan sebagai perancangan teknis pembelajaran, melainkan sebagai upaya membayangkan secara reflektif dan kritis bagaimana pembelajaran kimia dapat berlangsung apabila prinsip-prinsip PSP mulai diperkenalkan dan dihidupkan dalam konteks sekolah yang nyata.
Mahasiswa diminta mengembangkan satu atau lebih skenario yang menggambarkan kemungkinan jalur implementasi PSP, dengan berangkat dari kondisi riil sekolah yang mereka kenal. Skenario difokuskan pada perubahan pengalaman belajar siswa, pergeseran relasi pedagogik guru–siswa, perluasan ruang dan sumber belajar, fleksibilitas pendekatan pedagogik, serta keterbukaan ekosistem belajar yang melampaui batas ruang kelas formal. Dalam konteks ini, pembelajaran kimia dipahami tidak semata sebagai proses penyampaian konsep, tetapi sebagai ruang pembentukan makna, dialog, dan pengalaman belajar yang berorientasi nilai.
Penyusunan skenario dilakukan dengan pendekatan what if, yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan konseptual mengenai kemungkinan perubahan pembelajaran: bagaimana makna belajar kimia dapat berubah, bagaimana peran guru bergeser dari pengajar konten menjadi fasilitator makna, serta bagaimana siswa diposisikan sebagai subjek belajar yang aktif dan reflektif. Mahasiswa diharapkan mampu menguraikan implikasi pedagogik dari skenario yang disusun, baik terhadap pengalaman belajar siswa, dinamika kelas, maupun cara pembelajaran kimia dipahami dan dijalankan di sekolah.
Kegiatan ini bersifat eksploratif-proyektif, sehingga mahasiswa tidak dituntut menyusun RPP, desain pembelajaran rinci, atau model implementasi operasional. Fokus utama adalah membangun argumentasi konseptual yang logis, kontekstual, dan berbasis nilai, serta menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengaitkan prinsip Post-School Pedagogy dengan realitas pembelajaran kimia secara reflektif dan bertanggung jawab. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai kemungkinan arah transformasi pembelajaran kimia berbasis PSP sebagai landasan berpikir pedagogik ke depan.
Kegiatan ini tidak memerlukan alat laboratorium fisik. Mahasiswa menggunakan:
- Hasil analisis proyektif pada Kegiatan 2.1
- Wacana dan materi konseptual tentang Post-School Pedagogy
- Pengetahuan dan pengalaman mahasiswa terkait pembelajaran kimia di sekolah
- Referensi pendukung yang relevan (jurnal, kebijakan, atau dokumen kurikulum)
- Pelajari kembali hasil analisis kesiapan pembelajaran kimia berbasis PSP pada Kegiatan 2.1.
- Tentukan fokus utama skenario implementasi PSP (misalnya: perubahan pengalaman belajar, perluasan ruang belajar, relasi guru–siswa, atau integrasi ekosistem belajar non-sekolah).
- Susun skenario konseptual dengan pendekatan what if mengenai bagaimana pembelajaran kimia dapat berlangsung jika prinsip-prinsip PSP mulai diterapkan.
- Jelaskan perubahan pedagogik yang mungkin terjadi dalam skenario tersebut, termasuk implikasinya bagi siswa dan guru.
- Identifikasi peluang, tantangan, serta potensi ketegangan antara pendekatan PSP dan praktik pembelajaran kimia yang selama ini berlaku.
- Tuangkan hasil penyusunan skenario dalam bentuk tulisan konseptual dan argumentatif sesuai ketentuan penugasan.
Susunlah tulisan penyusunan skenario implementasi dengan ketentuan berikut:
- Panjang tulisan: 700–1.000 kata
- Ditulis secara individual atau kelompok kecil (2–3 mahasiswa)
- Memuat satu atau lebih skenario implementasi Post-School Pedagogy dalam pembelajaran kimia
- Bersifat konseptual, argumentatif, dan reflektif
- Tidak memuat rancangan RPP, model pembelajaran teknis, atau prosedur implementasi operasional
